Successful BETHANY Parepare

'' SAVIOR '' The Need of Every Heart….

Pria Idaman Lain dan Wanita Idaman Lain

Posted by bethanypare pada 16 Oktober 2009

A. Pendahuluan

PIL

Pil & Wil

Keadaan di sekitar kita makin berubah. Hal-hal yang tadinya ditutup rapat, sekarang mulai dibuka dan dibicarakan dalam forum terbuka. Bahkan masalah harta kekayaan seseorang mulai dibuka. Begitu juga dengan keberadaan Pria Idaman Lain (PIL) dan Wanita Idaman Lain (WIL). Sesungguhnya gejala tersebut sudah lama diketahui, bahkan sejak di Kitab Suci sudah disebut-sebut adanya WIL atau WML (Wanita Milik Lain). PIL kadang-kadang terdengar juga dari gosip, dan mulai lebih riuh sejak wanita mendapat kebebasan belajar dan bekerja, serta berkarya bersama para pria. Selain itu, timbul pula gejala yang disebut sebagai WML, yang sering diperlakukan sebagai milik sendiri untuk sementara saja. Baiklah gejala ini akan dilihat lebih lanjut tanda-tandanya.

B. Sebab-sebab Mudah Jatuh Hati — Jatuh Cinta

1. Mudah Jatuh Cinta — Tumbuh Cinta

Wanita dan pria yang sama-sama bekerja di kantor, baik sebagai sesama karyawan, atau sebagai atasan dan karyawan, setiap hari berjumpa dalam keadaan “kemasan” baik. Sebaliknya, dengan pasangan di rumah, biasanya mereka bertemu dalam keadaan lelah, kumal, serba tidak “sedap” dipandang. Bahkan pertemuan bisa disertai “nyanyian-nyanyian” tidak enak. Lama-kelamaan, keduanya lebih senang berkumpul dengan teman sekerja. Setiap pertemuan dengan “teman kerja” menjadi semakin akrab.

2. Pendapat Naif

Perasaan tertarik kepada pasangan (istri) sendiri makin memudar jika ia semakin tua. Makin tua pasangan — misalnya istri sendiri — makin ia kurang merangsang. “Rumput di kebun tetangga kelihatan lebih indah daripada rumput di kebun sendiri”. Begitu pun sebaliknya, istri juga tidak terangsang lagi oleh berbagai macam keadaan suaminya atau keadaan di rumah yang tidak memungkinkan. Suasana yang tepat sangat penting bagi wanita. Suami atau istri yang bekerja lebih banyak berada di luar rumah, lebih banyak berjumpa dengan orang-orang yang penuh pengertian, selalu siap sedia untuk menolong, akhirnya mereka menganggap orang-orang tersebut lebih mengerti daripada pasangan di rumah.

3. “Witing Tresna, Jalaran Saka Kulina”

Karena sering bertemu, biasanya sering bersama, kemudian jadi lengah, lalu timbul cinta. Jam kerja diulur-ulur karena waktu istirahat bertambah panjang, sehingga waktu di tempat kerja juga mengalami perubahan. Jam kerja di luar rumah meliputi jam istirahat yang kadang-kadang termasuk jam “olahraga” pribadi (private) yang tidak boleh dilakukan di muka umum. Masalah di rumah dihadapi dengan sisa waktu yang tinggal diisi dengan istirahat malam, sehingga istri/suami di rumah harus puas dengan pasangannya yang sudah mengantuk dan ingin cepat-cepat tidur.

4. Sukses Menjadi Godaan

Ketika seseorang semakin sukses, sudah mencapai kedudukan paling top, dia merasa semua juga harus “ngetop”, padahal umur sendiri sudah hampir mencapai “top” karena sebentar lagi akan pensiun. Menjadi bos yang paling top, berarti istrinya juga harus paling “ngetop”. Sekarang ini, banyak ibu yang mencari pengganti (nurse, babysitter) bagi anak-anaknya. Apakah ini menjadi jalan keluar (way out) yang baik bagi anak-anak dan bapaknya? Apakah mungkin timbul gejala baru, sehingga “babysitter” berdwifungsi menjadi “fathersitter”. Gejala lain bisa timbul bagi mereka yang tidak makan siang di rumah. Sesudah makan siang, agar tidak mengantuk, mereka melakukan olahraga berdua: “sex after lunch!” Bagaimana mempertanggungjawabkan keadaan ini karena hal ini pasti akan berlanjut dan selalu berjumpa lagi dan seterusnya sehingga bisa disebut juga “bobo siang bersama” (BSB) ataupun “seks di siang bolong” (SDSB).

5. Masalah Pernikahan

Pernikahan merupakan suatu kebersamaan yang harus dijaga kelanggengannya. Pada umumnya, pengalaman yang enak dan menyenangkan akan diulang-ulang, maka perlu diusahakan adanya keadaan-keadaan dan pengalaman yang enak dan menyenangkan dengan orang yang sama, yaitu pasangan sendiri. Jangan mencoba mencari pasangan lain untuk mencoba-coba hal, keadaan, atau perbuatan yang menyenangkan. Setiap hal dicoba dan dilatih berdua. Makanan yang kita makan sehari-hari sebetulnya merupakan bahan yang sama. Makanan yang disajikan dengan cara yang lain, akan menarik. Demikian pula makanan dengan bahan sajian yang sama tetapi olahan yang berbeda akan terasa lain dan tidak membosankan. Selalu harus diingat bahwa:

I am a one woman man        ————–    I am a one man woman
(Saya adalah seorang                                       (Saya adalah seorang
pria dengan satu istri)                                     wanita dengan satu suami)
|___________________________________________________|
|
Many ways to one love
(Banyak jalan menuju satu cinta kasih)

6. Masalah Setengah Umur: 40 tahun — 50 tahun (Mid-Life Crisis)

Masalah ini dihadapi bapak-bapak atau ibu-ibu yang sudah sampai puncak karier berkaitan dengan umur. Bila sudah sampai pada batasan umur yang sudah ditetapkan, mau tidak mau harus mempersiapkan diri untuk turun. Ada beberapa orang yang menyikapinya dengan mempersiapkan tugas-tugas baru yang tidak berkaitan dengan karier, ada juga yang membuat peraturan-peraturan yang aneh-aneh untuk tetap menampilkan “kemampuannya” atau kedudukannya. Sering terlihat adanya pria yang mau menjalin hubungan cinta dengan orang-orang yang muda. Mereka mau membuktikan bahwa kedudukannya masih bisa dipegang. Tetapi bagaimana seandainya sudah melepaskan jabatan? Kedudukannya akan ditinggalkan, begitu juga pacar mudanya akan meninggalkannya. Pada akhirnya ia kembali menjalani tahun-tahun akhir dengan istri/suaminya.

7. Masalah Kepribadian

Kepribadian dan perkembangan kepribadian sulit diubah. Begitu juga dengan seseorang yang sejak masa remaja sudah mencari dan mendapat kesempatan untuk mencicipi seks di luar nikah, ia agak sulit untuk mengubah arah dorongan-dorongan yang bersangkutan ke satu arah: satu suami/satu istri. Anak perempuan yang sejak muda sudah menjadi “perek” sulit untuk mengubahnya menjadi “a one man woman”. Namundemikian, masih lebih mudah mendidiknya menjadi “a one man woman” bila dibandingkan dengan pria yang harus dididik untuk menjadi “a one woman man” kalau pria tersebut sudah terbiasa sejak muda mencicipi wanita-wanita. Kadang-kadang terlihat juga adanya wanita atau pria yang sudah mengalami perubahan berkaitan dengan kepuasan yang diperoleh dalam bentuk yang tidak wajar, misalnya masokisme atau sadisme.

C. Upaya Mengatasi Masalah

Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, kita perlu bersabar dan bijaksana dalam bertindak, seperti:

  1. Perlu upaya menjauhkan diri dari godaan dan kesempatan untuk berhubungan dengan lain jenis yang bukan milik kita.
  2. Jangan pergi berdua mencari kenikmatan dalam kesempatan yang dibuat-buat.
  3. Perlu menjauhkan tindakan ultimatum yang dapat merusak keutuhan keluarga.
  4. Jauhkan benda-benda yang berhubungan dengan kenangan-kenangan yang terlarang.

Untuk memahami perilaku menyeleweng yang dilakukan suami, maka kita
perlu mengetahui penyebab penyelewengan mereka, yaitu:

a. Pemuasan Dorongan Primitif

Penyelewengan timbul untuk memuaskan dorongan primitif, yakni dorongan yang mendasar pada sistem kebutuhan manusia yang menitikberatkan semata-mata prinsip kenikmatan dan kepuasan. Penyelewengan memang lebih banyak berkembang dari masalah seks, meskipun pada kasus-kasus tertentu, penyelewengan muncul karena kebutuhan kehangatan dalam hubungan pribadi (companionship). Penyelewengan dalam bentuk petualangan seks muncul dengan tujuan untuk mencari sesuatu yang baru. Rutinitas dalam hubungan intim suami istri dirasakan bagai sayur yang kurang asin dan karenanya suami ingin mencoba dan memperoleh sayur dengan ramuan lain. Penyelewengan seks juga dapat terjadi karena seseorang mempunyai dorongan dan intensitas seks yang kuat yang merasa kurang memperolehnya dari istri sendiri. Jadi, pada dasarnya penyelewengan terjadi karena suami merasa tidak memperoleh kepuasan dalam hubungan intim suami istri.

b. Persepsi yang Keliru

Penyelewengan muncul karena adanya persepsi yang salah mengenai ciri kejantanan, peran, dan tanggung jawab selaku suami. Ada anggapan bahwa pria memunyai kodrat berpoligami, sehingga boleh berbuat sesuka hatinya. Pria bersifat memberi (buktinya “phallus” dan ejakulasi sebagai simbol memberi sesuatu kepada wanita — wanita hanyalah tempat menampung, artinya pasif), jadi pria lebih aktif. Wanita harus selalu siap (all weather), sedangkan pria tergantung kemauannya. Pria menganggap kejantanan adalah kehebatan, dan harus selalu diperlihatkan dan dibuktikan. Ini tentu adalah dalih untuk membenarkan diri, menutupi kesalahan, dan menjauhkan diri dari rasa bersalah (guilty conscience).

c. Masalah Perkawinan

Dalam kehidupan pernikahan, masalah penyesuaian diri, toleransi, tenggang rasa, dan berbagai masalah yang menimbulkan ketegangan, pada hakikatnya tidak mungkin dihindarkan, karena suami istri
merupakan dua pribadi yang berbeda. Keadaan demikian harus diatasi dengan kemauan dari kedua belah pihak dan tidak dibiarkan berlarut-larut atau tidak terselesaikan. Dengan adanya ketegangan, kemarahan, kekecewaan, kemurungan, ini akan memudahkan munculnya keinginan untuk melarikan diri (escape mechanism) dengan tujuan memperoleh keseimbangan.

d. Kesempatan

Pertimbangan hasil penalaran dan moral mudah rontok karena adanya kemudahan (misalnya keuangan) yang membuahkan nalar sederhana bahwa apa saja dapat saya lakukan. Demikian juga kalau kegiatan pokok terlalu sedikit, maka waktu untuk melakukan keisengan terbuka lebar dan dapat saja menggoda dan mengusik munculnya dorongan-dorongan di luar nilai moral, bahkan nilai sosial. Karena kesempatan terbuka lebar ketika berada di luar kota, jauh dari bayang-bayang istri, maka terusiklah benteng pertahanan diri yang kadang-kadang runtuh juga. Demikian pula kalau ada kesempatan atau peluang emas berulang-ulang, karena hubungan akrab seperti antara seorang bos dengan sekretarisnya atau antara mereka yang merupakan mitra kerja dan sering bertemu dalam suasana dekat dan akrab.

e. Ketegangan dan Substitusi

Kehidupan yang ditandai oleh kekerasan dan ketegangan dalam upaya meniti karier dan mencapai jenjang jabatan dan status yang lebih tinggi atau materi yang didambakan, mudah menimbulkan ketegangan terus-menerus. Dalam hal seperti ini, orang mudah tercebur dalam kegiatan yang disangkanya akan memberikan ketenangan dan kepuasan batin, namun sering keadaannya justru terbalik, yaitu menciptakan ketegangan baru. Substitusi dalam bentuk upaya untuk menyeimbangkan diri sering kali membawa seseorang pada penyelewengan-penyelewengan yang kadang-kadang alasannya tidak semata-mata karena seksual, namun lebih daripada itu.

D. Menangkal Keinginan Menyeleweng

Hal ini dapat dilakukan dengan cara:

1. Kekuatan Iman

Kemantapan iman adalah benteng utama pertahanan diri pada seorang pria atau wanita untuk menangkal rangsangan dan tantangan negatif yang muncul, baik dari dalam maupun dari luar dirinya.

2. Membina Hubungan Suami Istri yang Serasi

Upaya secara aktif dari suami untuk menciptakan hubungan serasi dengan istri, sangat diperlukan. Dalam hal ini, perlu keterbukaan agar masing-masing memahami kekurangan, kelemahan, dan kesediaan untuk berubah dan mengubah diri, sejauh diperlukan, untuk menciptakan suasana penuh kedamaian, keakraban, dan kehangatan.

3. Pemantapan Kepribadian

Setiap orang yang telah mencapai tingkat kedewasaan, tingkat kematangan, harus mampu mengembangkan fungsi pikiran dan mengendalikan emosi dan mampu menemukan cara untuk mengatasi kelemahan yang ada, termasuk menghadapi tantangan atau rangsangan yang negatif, baik upaya dari diri sendiri maupun bantuan dari orang lain.

4. Menghindari Kesempatan

Menjauhkan diri dari godaan dalam bentuk apa pun akan lebih baik dan karena itu tidak perlu berdalih bahwa saya pasti kuat dan tidak akan tercebur atau terlibat lebih jauh. Kesempatan dan peluang adalah momok yang tampaknya sederhana, namun dalam kenyataannya banyak menyeret pria ke dunia penyelewengan.

5. Menemukan Cara Penyaluran

Karena sulitnya menghindar dari kenyataan yang menggoda (temptation), maka setiap orang harus menemukan dan memunyai cara-cara penyaluran yang tepat, khususnya untuk meredam pikiran-pikiran negatif yang mendorongnya melakukan penyelewengan. Cara penyaluran tentunya disesuaikan dengan minat dan hobi pribadi yang tidak menimbulkan dampak negatif, tetapi menimbukan nilai kepuasan yang cukup.

Daftar Kepustakaan
1. Berscheid, E. and B. Campelll. (1981). The Changing Longevity of Heterosexual Close Relationships. In M.J. Lerner & S.C. Lerner (Eds.). The Justice Motive in Social Behavior. New York Plenum.
2. Blumstein, P. and P. Schwartz. (1983). American Couples: Money, Work, Sex. New York Morrow.
3. Brecher, E. (1984). Love, Sex and Aging. Boston: Little Brown.
4. Brubaker, T. (1983). Family Relationship in Later Life. Ca: Sage.
5. Bruin, O.G. (1977). Theories of The Male Mid-Life Crisis. In N. Schlossberg & A. Entine (Eds.). Counseling Adults. Monterey, Ca: Brooks/Cole.
6. Calderone, M.S. and E.W. Johnson. (1981). The Family Book about Sexuality. New York: Harper & Row.
7. Essex, M.J. & S. Nunn. (1987). “Marital Status and Loneliness among Older Woman: The Differential Importance of Close Family and Friends”. Journal of Marriage and The Family, 49, 93 — 106.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Asas-Asas Psikologi Keluarga Idaman
Penulis: Dra. Yulia Singgih D. Gunarsa
Penerbit: PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta 2000
Halaman: 30 — 38

________________________________________________________

Anda punya masalah/perlu konseling? atau ingin mengirimkan
Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
silakan kirim ke : bethanypare@yahoo.com

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: